Stories & Thoughts

Sejarah Periklanan Indonesia : Papa, Papa Mertua, dan Opa Kami

Weekend kmaren pas ke Bogor menghadiri resepsi nikahannya Bessy, kita sekeluarga menyempatkan nyekar ke makam papanya Nyanya. Selain karena emang udah lama banget ga ke sana, kita juga pengen “memperkenalkan” Rinjani sama Opanya.

Saya sendiri ga pernah berkesempatan ketemu sama si papa mertua. Beliau meninggal sekitar 1 tahun sebelum saya kenal Nyanya. Itu adalah salah satu penyesalan terbesar saya. Saya masih inget, waktu pertama kenal Nyanya, saya banyak nanya-nanya soal keluarganya. Standarlah, namanya juga lagi pdkt. Lucu juga waktu itu, saya yang shock gitu bgitu tau kalo papanya adalah seorang Muhamad Napis, Nyanya-nya malah bengong, “kok kamu tau papa aku? emang papa itu dulu siapa?” :p

Tadinya saya ga ngeh sih. Soalnya Muhamad Napis yang saya tau dari literatur kuliah advertising saya waktu itu kan udah tua banget. Jaman Belanda bo, kayanya ga mungkin deh pak Napis yang itu punya anak seumuran Nyanya. Lagian saya juga lupa-lupa inget, cuman kaya familiar aja namanya. Tapi karna Nyanya bilang, “..kerjanya di periklanan periklanan gitu deeeh.. PPPPI atau apa gitu..” saya iseng googling, trus nemu artikel ini, dan saya tanya, “papa kamu bukan Muhamad Napis yang ini kan?” dan jengjengjeng… “iiihhh kok kamu nemu foto papaaaa???” Ih?

indonesia_14

Ya begitulah. Saya bukan orang advertising. Pernah sih kuliah advertising. Pernah kerja di agency murahan juga di Jakarta, ga nyampe setahun itu juga. Tapi saya ngerasa menyesal banget ga dikasih kesempatan bertemu dengan beliau. Kebayang ga sih gimana banyaknya dan berkualitasnya ilmu-ilmu yang bisa saya serap dari beliau kalo aja saya kenal Nyanya jauh sebelum beliau meninggal. Udah deh gausah dibahas gimana serunya kalo bisa ngobrol sama beliau. Apalagi Nyanya selalu bilang, “Papa itu tukang ngobrol. Makanya dulu banyak mahasiswa yang dateng ke rumah buat ngobrol-ngobrol sekalian belajar sama papa..” hiks!

Itu juga yang bikin saya miris setiap ke makam papa. Kondisi makamnya sangat seadanya. Cuman nisan kayu dan gundukan tanah yang udah hampir rata dengan tanah sekitarnya, dan udah ditumbuhin rumput ilalang. Saya ga ngerti sih, menurut Islam makam yang baik itu seperti apa, apakah musti dimewah-mewahin, atau cukup yang sederhana aja. Cuman saya sedih aja, mengingat beliau yang ada di makam ini dulu adalah salah satu ‘orang penting’ pada masanya. Setidaknya itu menurut saya. Saya ga nyalahin pemerintah sih. Beliau bukan pahlawan nasional. Bukan tugas mereka juga gitu ngurusin segala makam orang advertising lah. Justru harusnya saya orang yang paling pas buat ngurusin dan ngebagus-bagusin itu makam.

Nyanya itu anak bungsu papa. Dia lahir waktu anak-anaknya papa yang lain udah pada dewasa dan berumahtangga. Jarak umur Nyanya sama kakak-kakaknya jauh banget. Makanya si bungsu ini jadi anak emasnya papa di masa tuanya. Begitu juga sebaliknya, Nyanya dan papa deket banget. Ga heran kolokannya kebawa sampe sekarang walopun udah ada Rinjani :p

Tapi terus terang, ada kebanggaan personal saya bisa menikah dan punya anak dari anak kesayangan seorang Muhamad Napis. Saya emang ga pernah ketemu, tapi dari buku-buku sejarah yang saya baca, dan dari cerita-cerita Nyanya, saya jadi tau banyak tentang beliau. Entah orang lain inget atau bahkan kenal sama beliau, yang jelas buat saya dan Nyanya, papa adalah orang hebat. Dan kami berjanji, Rinjani harus tau itu. Itulah alasan kenapa kami maksa membawa Rinjani ke makam papa, walaupun kata orang-orang, bayi ga boleh di bawa ke makam.

Di bawah ini adalah sejarah periklanan Indonesia yang sebenernya bisa di baca website resmi PPPI, tapi untuk dokumentasi pribadi, saya posting di sini, biar nanti Rinjani kalo udah gede bisa baca.

ZAMAN HINDIA BELANDA (HINGGA 1942)

Pada zaman Hindia Belanda tidak ditemui catatan mengenai asosiasi dari masyarakat periklanan. Ini termasuk asosiasi pengiklan, media periklanan ataupun asosiasi dari perusahaan periklanan sendiri. Baik yang berbentuk asosiasi profesi atau praktisi, usahanya, ataupun asosiasi sosial yang berkaitan dengan dunia periklanan.

Namun itu tidak berarti tidak ada kegiatan dari para praktisi periklanan. Ini terbukti dari vokalnya para praktisi pemasaran dan periklanan menyuarakan aspirasinya. Banyak sekali tulisan mengenai periklanan di suratkabar atau majalah. Malah terlihat adanya kecenderungan meningkatnya aktivitas maupun kesadaran beriklan. Hingga sesaat sebelum pendudukan Jepang, di Jakarta sudah beroperasi beberapa perusahaan periklanan. Yang terkenal, adalah:

A de la mar, di jalan Merdeka Utara.

Aneta, di jalan Antara, (sekarang geung LKBN Antara).

Elita, berkantor di jalan Antara (dahulu jalan Pos Utara).

Globe, di jalan Kalibesar Timur.

IRAB (Indonesia Reclame and Advertentie Bureau), semula berkantor di jalan Hayam Wuruk, tetapi kemudian pindah ke jalan Kh Samanhudi (dahulu jalan Asemreges atau jalan Sawah Besar).

Preciosa, di jalan Veteran IV (kantor Sekretariat Negara sekarang).

Elita dan IRAB dimiliki dan dipimpin oleh orang-orang Indonesia, sedangkan sisanya dimiliki dan dipimpin oleh orang-orang Belanda. Waktu itu belum terdapat asosiasi perusahaan periklanan.

ZAMAN PENDUDUKAN JEPANG (1942-1945)

Masuknya tentara Jepang ke Indonesia segera menyebabkan terhentinya aktivitas perusahaan-perusahaan milik Belanda. Di Jakarta, perusahaan-perusahaan periklanan milik orang-orang Indonesia yang semula hanya dua, bertambah cukup banyak. Meskipun demikian, tidak diketahui mengapa tidak ada catatan mengenai perusahaan-perusahaan periklanan milik kelompok Cina yang pernah sangat berprestasi pada periode-periode sebelum masuknya tentara Jepang.Kebanyakan dari perusahaan-perusahaan periklanan yang dimiliki oleh orang Indonesia ini masih relatif kecil. Namun ada lima ayng menonjol, yaitu:

Elita, dipimpin bersama oleh M. Nasroen AS dan Sofjan.

Irab, dipimpin oleh D. Karisoetan.

Korra (juga mempunyai kantor-kantor di Bandung, Semarang, dan Yogyakarta). Korra dipimpin oleh Sujadi Hadikusumo dan beralamat di jalan Gajah Mada No.7-Jakarta. Di masa itu, perusahaan periklanan ini merupakan salah satu yang paling aktif. Kantor-kantor cabangnya di Bandung dan Yogyakarta merangkap Semarang, masing-masing dipimpin oleh R. Soendjojo dan Soejono Hadikoesoemo.

Pikat, dipimpin oleh Rameli Adjam yang merupakan pula aktifis gerakan kepanduan di masa itu.

Tanjung, dipimpin oleh Amir Hamzah Tanjung. Namun setelah proklamasi kemerdekaan, ia beralih profesi menjadi wartawan LKBN (Lembaga Kantor Berita Nasional) Antara, sampai akhir hayatnya.

Meskipun perubahan-perubahan lingkungan makro banyak mempengaruhi usaha periklanan, tetapi hingga saat itu para usahawan periklanan belum merasa perlu mendirikan asosiasi periklanan.

PASCA KEMERDEKAAN

Setelah kemerdekaan (1945-1947), kegiatan periklanan di Indonesia sempat menurun tajam. Sebagian, akibat terkonsentrasinya aktivitas masyarakat pada perjuangan melawan tentara Sekutu dan Belanda. Baru tahun 1948, di daerah-daerah yang diduduki tentara Belanda, seperti Jakarta dan Bandung, mulai tumbuh perusahaan-perusahaan periklanan. Hingga saat itu pun perusahaan periklanan masih menggunakan nama Reclame Bureau atau Biro Reklame, dan semat-mata dianggap sebagai perusahaan perantara, yang menghubungkan pengiklan dengan media. Bahkan istilah “iklan” pun belum dikenal.

Maraknya lagi aktivitas periklanan adalah akibat pulihnya perdagangan barang – barang eks impor. Namun konsepsi tentang perusahaan periklanan sebagai bagian dari industri komunikasi atau pemasaran , belum diakui. Hal ini untuk bagian besar, karena situasi sellers market ( pembeli mencari barang-permintaan pada barang melebihi kemampuan penyediaannya ) yang terjadi hingga usai perang dunia ke 2. Saat itu, fungsi periklanan praktis hanya untuk menyampaikan informasi tentang sesuatu produk atau jasa, secara ringkas dan populer. Perusahaan – perusahaan periklanan yang berdomisili di Jakarta, adalah :

Azeta, Contact , Cotey, De Unie, Elite, F.Bodmer, Frank Klein, Garuda, Grafika, Ippres, IRAB, Kilat, Korra, Life, Lintas ( Limbung Advertising Service ), Oreintal, Patriot, Pikat , Reka, Studio Brek dan Titi.

Di Bandung , adalah :

Balai Iklan ( sebelumnya bernama Medium ), Djepati,Florida, King’s, Korra ( cabang Jakarta), Limas, Lintas ( Cabang dari Jakarta ) dan Rosada.

Pada tahun 1950, perusahaan periklanan Korra mengalami musibah. Ia terlibat sengketa dengan kementrian perekonomian sebagai penerbit sebuah buku petunjuk. Sengketa masalah periklanan untuk buku berjudul “Trade Directory of Indonesia” ini tampaknya sangat serius, sehingga mengakibatkan ditutupnya Korra. Sebagai gantinya, mantan pengelola Korra kemudian mendirikan perusahaan – perushaan periklanan Kusuma di Jakarta dan Budi Ksatria di Bandung.

ASOSIASI PERUSAHAAN PERIKLANAN PERTAMA

Awal September 1949, atas prakarsa beberapa perusahaan periklanan yang berdomisili di Jakarta dan Bandung, dibentuk suatu asosiasi bagi perusahaan – perusahaan periklanan. Asosiasi ini mereka beri nama Bond Van Reclamebureaux in Indonesia-PBRI ( Perserikatan Biro Reklame Indonesia ). Nama asosiasi ini menggunakan bahasa Belanda, karena keanggotaan PBRI ini di dominasi oleh perusahaan – perusahaan periklanan milik orang -orang Belanda.

Sebelas perusahaan tercatat menjadi anggota Bon Van Reclamebureaux in Indonesia, yaitu ; Budi Ksatria, Contact, De Unie, F. Bodmer, Frank Klien, Grafika, Life, Limas, Lintas, Rosada dan Studio Berk. PBRI ini pada masa – masa selanjutnya menjadi cikal – bakal munculnya PPPI ( Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia ) yang dikenal hingga saat ini.

MUNCUL TANDINGAN

Sebagai asosiasi dari hanya perusahaan – perusahaan periklanan besar dan dikuasi oleh orang – orang Belanda, PBRI tentu saja tidak mampu menampung aspirasi para perusahaan periklanan milik orang – orang Indonesia. Situasi ini memicu berdirinya asosiasi perusahaan periklanan lainnya di tahun 1953. Seperti juga PBRI asosiasi tandingan ini juga didirikan di Jakarta dan diberi nama SBRN ( Serikat Biro Reklame Nasional ).

Terbentuknya SBRN mungkin diilhami pula oleh adanya dua asosiasi penerbit suratkabar saat itu. Salah satu diantaranya adalah PPPI ( Perserikatan Persuratkabaran Indonesia ) yang merupakan kelanjutan dari Verenigde Dagblad Pers. Asosiasi suratkabar lainnya adalah Serikat Penerbit Suratkabar ( SPS ). Tercatat tigabelas anggota pertama SBRN, yaitu : Azeta, Elite, Garuda, Irab, Kilat, Kinibalu, Kusuma, Patriot, Pikat , Reka, Lingga, Titi dan Trio.

Balai Iklan, salah satu “biro reklame” terbesar di Bandung tidak bergabung dengan salah satu asosiasi periklanan yang ada, Tjetje Senaputra yang menjadi pemimpinnya berpendirian, bahwa perusahaan periklanannya tidak bergerak di bidang periklanan display (iklan-iklan besar, bergambar dan umumnya untuk produk ) sebegaimana yang menjadi bidang kegiatan para anggota asosiasi tersebut. Balai iklan, menurut dia tetap akan mengkhususkan diri pada iklan-iklan classified ( iklan-iklan mini atau iklan-iklan kecil untuk pengumuman, lowongan kerja, keluarga, dsb).

FUSI ASOSIASI

Adanya dua asosiasi perusahaan periklanan tampaknya cukup memprihatinkan para anggota dan eksponennya. Karena tahun 1954, F. Berkhout, ketua PBRI waktu itu, kemudian menghubungi beberapa pimpinan SBRN. Ia mengusulkan dilakukan semacam Fusi dari kedua asosiasi tersebut. Dua asosiasi yang memperjuangkan tujuan – tujuan yang sama ternyata menyuliskan pembinaan ke dalam maupun oleh instansi – instansi Pemerintah. Gagasan melakukan fusi ini berjalan cukup lancar.

Dan sejalan dengan kecenderungan Indonesiani yang terjadi, para aktivis dari perusahaan – perusahaan periklanan Belanda yang mendominasi PBRI bersedia menyerahkan pimpinan asosiasi baru hasil fusi, kepada tenaga -tenaga bangsa Indonesia. Meskipun demikian, untuk menjaga kelancaran roda asosiasi , disepakati pula bahwa pelaksanaannya baru akan dilakukan pada tahun berikutnya.

Secara organisatoris, sebenarnya fusi ini tidak pernah efektif, karena beberapa waktu sebelumnya , terjadi perpecahan dalam tubuh SBRN, perpecahan ini berkaitan dengan kebijaksanaan penyelenggaraan Pool Iklan Pemerintah yang ditangani oleh pengurus SBRN. Pool iklan Pemerintah adalah sutau badan yang menyelenggarakan iklan – iklan undian dari Departemen Sosial maupun dari Instansi – instansi lainnya.

Tujuannya adalah untuk pemerataan kesemaptan. Mekanisme yang dipilih waktu itu adalah secara bergiliran kepada para anggota SBRN diberi hak untuk melaksanakan pemasangan iklan pemerintah. Namun keberhasilan SBRN memperjuangkan hak penyelenggaraan Pool iklan Pemerintah itu malah menimbulkan silang pendapat di antara para anggota dan pengurusnya. Mayoritas anggota SBRN kemudian menyatakan dirinya keluar dari keanggotaan SBRN, Mereka keluar ini secara bersama – sama justru kemudian menjadi anggota PBRI.

LEMBAGA PENEGAK ETIKA PERIKLANAN PERTAMA

Di samping berbagai perubahan yang terjadi dalam tubuh SBRN dan PBRI, tercatat suatu peristiwa sangat penting lain pada tahun 1955 itu, yaitu ketika Peraturan periklanan ditandatangani oleh wakil -wakil SPS, PPI, Stiching Voor Reclame ( Yayasan Periklanan ) dan PBRI. Para asosiasi ini kemudian duduk bersama dalam suatu lembaga yang diberi nama Panitia Penyelesaian soal soal iklan PPSI ( COVA – Commisieven Overleg in Het Advertentewezen ).

Tugas penting lembaga ini adalah, untuk menegakkan etika bisnis antara para praktisi periklanan, utamanya antara perusahaan periklanan dengan media cetak dan antara anggota – anggota asosiasi masing-masing. Selain itu, lembaga ini juga bertugas melakukan arbitrasi dalam hal terjadi konflik antara anggota dari asosiasi berbeda. Karena itu, lembaga ini juga diberi wewenang untuk memberi akreditasi ( pengakuan ) kepada perusahaan- perusahaan periklanan maupun kolportir iklan yang dianggap sehat.

Dalam praktek usaha periklanan modern, akreditasi sangat penting. Karena ia bukan saja menunjukkan bonafiditas sesuatu perusahaan periklanan namun merekapun memperoleh kemudahan dan fasilitas yang lebih baik dari para mitra usahanya, dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki akreditasi bahkan bagi media – media besar , hanya perusahaan – perusahaan periklanan yang memiliki akreditasi yang diperkenankan memasang iklan.

KETUA PBRI DITANGAN BANGSA INDONESIA

Sesuai janji pengurus PBRI lama, mulai tahun 1955 pengurus PBRI sudah harus di tangan orang – orang Indonesia. Meskipun demikian para aktifis periklanan bangsa Indonesia tidak serta merta menyingkirkan tenaga – tenaga pengurus bangsa Belanda.

Muhamad Napis, yang sebenarnya sudah disepakati untuk menjadi Ketua baru, berpendapat bahwa pemikiran dan pengalaman rekan-rekan bangsa Belanda itu masih dibutuhkan bagi pembinaan dan pengembangan PBRI.

Secara ksatria Muhamad Napis menolak pencalonan sebagai ketua dan tetap mempercayakan jabatan kepada F. Berkhout. Meskipun demikian, tenaga – tenaga Indonesia bersedia menduduki kursi – kursi wakil, wakil sekretaris dan wakil bendahara. Kedudukan Ketua PBRI di tangan bangsa Indonesia baru terjadi pada tahun berikutnya, 1956. Melalui forum Rapat Anggota ( sekapasitas dengan kongres ) dan secara aklamasi dipercayakan kepada Muhamad Napis.

MENJADI ” PERSATUAN “

Kongres Reklame Seluruh Indonesia pertama diadakan di Gedung Pertemuan Umum di Jala Medan Merdeka Utara Jakarta pada tanggal 3 – 7 November 1957. Kongres ini diprakarsai oleh PBRI dan dihadiri oleh wakil – wakil PBRI, IPPN ( Ikatan Persuratkabaran dan Penerbit Nasional ), Lembaga Pers dan Pendapat Umum, serta beberapa perusahaan periklanan anggota PBRI. Untuk pelaksanaannya , panitia mendapat dukungan penuh dari kementrian Penerangan,IPPN,SPS, Dewan Tourisme Indonesia serta berbagai lembaga lain.

Sejalan dengan semangat persatuan dan kesatuan yang timbul dan untuk memenuhi permintaan sebagian besar anggota PBRI dalam Kongres tersebut, kata “Perserikatan” diubah menjadi “Persatuan”. Sehingga mulai saat itu pula akronim PBRI berarti Persatuan Biro Reklame Indonesia dan dikukuhkan melalui Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga asosiasi.

BERDIRINYA PPPI

Tampaknya Muhamad Napis cukup berhasil memimpin asosiasi ini karena ternyata dia dipercayakan untuk menduduki jabatan ketua PBRI secara terus menerus. Namun karena merasa jenuh dan kurang demokratis, Muhammad Napis terpaksa memprakarsai diadakannya referendum. Formulir pengumpulan pendapat dari para anggota ini mulai diedarkan pada awal bulan April 1971 dan jawaban anggota harus sudah diterima pada akhir bulan berikutnya. Tujuan utamanya adalah. Memilih Ketua dan Pengurus baru PBRI selain bertujuan memilih personalia Pengurus baru, referendum memberikan kesempatan pula untuk mengemukakan hal – hal yang dirasakan sangat penting oleh anggota seperti :

a. Perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.

b. Strategi dan kebijakan yang perlu ditempuh Pengurus untuk mengamankan kepentingan Anggota.

Namun referendum ini pun ternyata tidak berhasil memperoleh Ketua baru. Maka Muhammad Napis yang waktu itu menjadi pemilik dan pengelola perusahaan periklanan Bhineka tetap duduk sebagai Ketua.

Pada bulan Maret 1972, melalui Harsono yang waktu itu menjabat sebagai Direktur Jenderal PPG ( Pembinaan Pers & Grafika ), Departemen Penerangan Republik Indonesia, Pemerintah menyatakan bahwa PBRI merupakan satu-satunya wadah perusahaan periklanan di Indonesia. Pernyataan itu disampaikan pada seminar Periklanan di Jakarta. Pernyataan yang disampaikan dalam forum yang baru pertama kali diadakan di Indonesia oleh masyarakat periklanan itu ternyata mengundang banyak minat perusahaan periklanan baru untuk masuk menjadi anggota PBRI.

Banyaknya minat menjadi anggota PBRI menimbulkan lagi harapan bagi Muhammad Napis untuk segeara melepaskan jabatan Ketua. Lebih lagi , secara pribadi sebenarnya dia tidak setuju dengan dibiarkannya banyak perusahaan periklanan “asing” beroperasi di Indonesia. Pada masa itu muncul banyak dugaan bahwa beberapa perusahaan periklanan nasional hanya jadi kedok bagi perusahaan-perusahaan periklanan asing, bahkan sebagian dari mereka di duga, seluruh sahamnya dimiliki oleh orang asing. Praktek ini, tampaknya disimak pula oleh Prof.Dr. Sumitro Djojohadikoesoemo, Menteri Perdagangan saat itu, secara jelas , hal ini dapat dilihat dari maksud dan jiwa Surat Keputusan Menteri Perdagangan RI No. 314/KP/XII/70 tanggal 4 Desember 1970.

Meskipun demikian, sebagian praktisi periklanan lainnya menduga pula, bahwa ketatnya persaingan saat itu ikut memicu munculnya kontroversi pendapat. Begitu kokohnya Muhammad Napis pada sikapnya dia bahkan merencanakan untuk menutup perusahaan periklanannya sebagai protes.

Isi surat keputusan ini berintikan, bahwa perusahaan periklanan asing tidak diizinkan berusaha dan beroperasi di Indonesia, dan bahwa penggunaan tenaga – tenaga perusahaan nasional terbatas pada jabatan advertising manager ( Manajer Periklanan di perusahaan pengiklan), technical advisor ( penasehat teknis di perusahaan periklanan ) dan Management Consultant ( konsultan manajemen di perusahaan pengiklan ).

Tanggal 27-29 Maret 1972, bertempat di restaurant geliga-Jakarta, diselenggarakan Seminar Periklanan yang diikuti oleh masyarakat periklanan; media, pengiklan dan perusahaan periklanan. Seminar ini diprakarsai oleh SPS, dan merupakan seminar pertama yang berhasil menghimpun seluruh komponen masyarakat periklanan di Indonesia setelah kemerdekaan. Sebagai ketua panitia seminar diangkat HG Rorimpandey, salah satu ketua SPS saat itu yang juga Pemimpin Umum Harian Sinar Harapan, Jakarta. Dia sekaligus memberikan prasaran berjudul ” Pembinaan PBRI dalam menghadapi masalah – masalah pokok periklanan di Indonesia “. Disampaikan oleh Muhamad Napis, Ketua PBRI.

Dalam seminar tersebut ada tiga tujuan pokok yang hendak dicapai Panitia, Pertama, agar eksistensi periklanan memperoleh pengakuan, baik dari masyarakat maupun dari Pemerintah. Kedua, untuk mengefektifkan Peraturan Pemerintah tentang larangan penggunaan modal dan tenaga asing di bidang periklanan, ketiga, Untuk menggairahkan kembali periklanan khususnya periklanan pers. Hasil-hasil seminar tersebut juga ternyata kemudian menjadi pemicu bagi bangkitnya generasi muda periklanan, penerus generasi Muhammad Napis.

Desember 1972, dihadiri Direktur Bina Pers Departemen Penerangan saat itu, Drs.T.Atmadi dilangsungkan Rapat Anggota PBRI. Rapat Anggota yang diadakan d Restaurant Chez Mario Jalan Ir.H. Juanda III /23 Jakarta Pusat itu, dimaksudkan untuk memilih pengurus baru. Rapat yang dipimpin oleh AM Chandra itu akhirnya berhasil memilih Ketua PBRI yang baru. AM Chandra , yang memang sejak lama telah menjadi aktivis PBRI akhirnya bersedia menjadi Ketua. Bersamaan dengan itu, sesuai dengan perkembangan bahasa Indonesia dan tuntutan jaman, istilah ” Biro Reklame ” yang digunakan oleh asosiasi ini pun diganti menjadi ” perusahaan periklanan.” Dengan usainya Rapat Anggota terakhir PBRI tersebut, era PBRI ditutup dan era PPPI pun dimulai.

The girls called him Popo. Popo spent several years working as a graphic/new media designer in several companies in several cities before he got bored and decided to move back to Bandung and started his own streetwear label with his friends. Now, when he’s not busy massaging Nyanya’s back or making play doh with Rinjani, Popo can be found at WADEZIG! HQ making cool apparel.

Leave a Reply to grontol Cancel reply

Comments (6)

  1. amazing! *salam hormat*

    beruntung kamu ing dapat mertua beliau :)
    dan di alam sana mungkin beliau bangga
    kalau mengerti bahwa menantu-nya
    seorang praktisi desain :)

  2. iya Zam (eh ini bener zam kan?), aku juga merasa beruntung :D lumayan dapat cerita-cerita inspiratif dari Nyanya dan dapat warisan koleksi buku-buku yang ga bisa dinilai pake duit kualitasnya heheheh

%d bloggers like this: