News & Updates

It’s All About The Family, After All

A shiny new blog, yay!

Agak beda dengan sebelom-sebelomnya, blog baru ini ga sekedar ganti kulit dari layout yang lama doang. Tapi juga ada perubahan yang lumayan mendasar. Atau lebih tepatnya, kembali pada hakikatnya sebagai blog seutuhnya. Ahahah. Naoon.

Jadi awalnya kan blog ini emang cuman blog belaka ya. Jurnal harian saya dan Nyanya. Yaa atau scrapbook deh, karena isinya terlalu acakadut untuk disebut jurnal. Isinya dokumentasi tentang apa yang pernah, sedang, akan, atau bahkan yang pengen kita pikirin atau lakuin. Semuanya masuk sini.

Tapi pada perjalanannya, kita kepikiran untuk merapikan ‘scrapbook’ ini jadi lebih terorganisir. Apalagi sejak ada Rinjani, kita jadi sering bikin-bikin fun projects bareng. Bahkan mulai ada yang dijual juga. Makanya kita ngerasa perlu memisahkan projects ini dari blog utama. Maksudnya tadinya biar blog kita ngga ‘terkontaminasi’ sama urusan jualan. Jadi blog yang lama kita pecah jadi 3 bagian, Stories, Projects, dan Foodie. Peruntukannya ya sesuai namanya masing-masing aja. Yang satu khusus buat cerita-cerita, yang satu buat fun projects dan jualan, dan yang terakhir khusus buat proyek masak-memasak dan food photography.

Waktu berlalu, dan The Babybirds mulai dikenal sebagai brand kids apparel, atau arts & crafts, atau home & living, atau apalah. Kita mulai banyak menerima tawaran dari segala rupa marketplace baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sebagian kita terima, sebagian lagi karena berbagai alasan terpaksa kita tolak. Ada yang terus berlanjut sampe sekarang, ada juga yang stuck di tengah jalan. Puncaknya, waktu itu ada yang menawarkan untuk franchise atau memasarkan produk-produk The Babybirds di Belanda sama Swedia. Mereka sampe udah bikin websitenya segala. Sayang karena satu dan lain hal dari pihak mereka, sampe sekarang ga jelas kelanjutannya. Kalo undangan bazaar jangan ditanya. Banyak aja pokoknya.

Intinya, dalam beberapa tahun terakhir, The Babybirds tiba-tiba jadi brand, disejajarkan dengan brand-brand ‘beneran’ lainnya. Well ga tiba-tiba juga sih. Kitanya juga yang bikin jadi begitu. Tapi reaksi orang-orang agak bikin kaget juga. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya kita menerima email dan atau komen di Instagram yang isinya kurang lebih, “boleh minta PL-nya sis?” (belakangan kita baru tau PL itu maksudnya pricelist, d’oh!). Ya emang ga salah sih, kan emang kita jualan? Tapi tapiii…

Beberapa bulan (apa udah setahun ya?) terakhir The Babybirds sebagai brand bisa dibilang vakum. Kita baru nyadar pas ada temen yang nanya.

“Eh The Babybirds lagi vakum ya?”

Errr… vakum? Emang harusnya gimana? Harus jualan terus ya?

Ahahah.

Kita suka lupa, kalo brand jualan itu punya ‘tanggungjawab’ untuk terus memenuhi kebutuhan pasar. Sekarang pertanyaannya, kita brand jualan apa bukan?

Jadi ya gitu deh.

Daripada kita harus dituntut untuk bertanggungjawab, mendingan kita balik ke awal lagi aja. Kita ini cuman keluarga kecil yang suka bersenang-senang. Bukan toko online yang mengerahkan segenap kemampuan marketing untuk mendapatkan laba. Kita cuman bikin-bikin kalo lagi seneng (atau kalo lagi butuh duit buat jalan-jalan) aja. Dan blog kita ini juga bukan online shop yang isinya produk-produk kekinian yang banyak diminati ibu-ibu muda. Blog ini cuman scrapbook yang isinya segala rupa dokumentasi tentang keseharian keluarga kita.

Atas dasar itulah, makanya sekarang ketiga blog yang tadinya dipisah-pisah, sekarang semuanya digabrukin di sini. Lagi. Blog yang tadinya mau dibikin terorganisir sekarang dibalikin lagi pada hakikatnya yang sebenernya, sebagai blog. Sebagai catatan harian. Sebagai jurnal. Sebagai scrapbook keluarga. Kalo nanti isinya banyakan DIY projects, itu artinya kita lagi pengen bikin-bikin. Kalo isinya jualan, mungkin kita lagi pengen beli sesuatu, atau sedang di bawah tekanan teman-teman yang memaksa kita untuk menjual sesuatu yang pernah kita bikin (biasanya sih gitu hihih). Atau kalo nanti isinya banyakan cerita-cerita atau foto-foto, mungkin kita lagi pengen ngemeng aja. Dan kalo nanti blog ini mendadak sepi, mungkin itu artinya kita lagi males ngapa-ngapain.

Karena ya itu tadi, kita ini cuman keluarga haha hihi aja. Dan ini scrapbook acakadut kita.

The girls called him Popo. Popo spent several years working as a graphic/new media designer in several companies in several cities before he got bored and decided to move back to Bandung and started his own streetwear label with his friends. Now, when he’s not busy massaging Nyanya’s back or making play doh with Rinjani, Popo can be found at WADEZIG! HQ making cool apparel.

Leave a Reply to nike Cancel reply

Comments (12)

  1. Hihihihi.. selalu suka sama petualangan keluarga burung ini.. Apalagi Jani makin gede, ekspresi makin minta di gigit. Keseul.. Hehehehe.. Layout barunya kece.. Semoga dengan layout dan pengaturan barunya jadi semakin nyaman dan sering berkicau yaa. hebringlah. :)

  2. Akhirnyaaaaa…saya sebagai geng antapani juga (pembaca sok kenal :D) bisa baca2 blognya keluarga burung lagii…pantesan saya liat di blog yg stories kok gak ada yg baru2 postingnya..ternyata pindah dimariii…hehehehe:P saya tunggu cerita2 serunya lagi ya..

    Btw, kalo saya sapa sok ikrib di superindo antapani gpp ya…sering lihat soalnya tapi malu nyapanya..hehehe:P

%d bloggers like this: