Illustration & Design

The Babybirds for The New Eyang Prof

Beberapa bulan yang lalu (iya ini harusnya diposting berbulan yang lalu), saya dapet tugas dari H/NG untuk mendesain kover sketchbook. Pekerjaan gampang, sebenernya. Yang bikin jadi susah, karena sketchbook ini akan jadi suvenir untuk upacara pengukuhan Dr. Aru –papanya Mamah Iyem– sebagai guru besar, dan sekaligus pengukuhan gelar profesornya, menyusul mama Hera yang sudah jadi Eyang Prof (panggilan sayang bocah-bocah ke beliau) duluan. Nama beliau sendiri aja udah berat, ini ditambah pula dengan gelar profesor. Universitas Indonesia pula. Udah gitu, walaupun cuman buat suvenir, tapi sketchbook ini rencananya akan dibagi-bagikan kepada para undangan upacara, yang tentunya level profesor UI semua. Glekk.

Dari hasil ngobrol-ngobrol sama Mamah Iyem, akhirnya kita sepakat untuk menampilkan sisi mahasiswa dari Papa Aru dalam desain kovernya itu. Karena saya pikir, kalo misalnya saya yang jadi Papa Aru, trus saya dianugerahi gelar profesor dan dirayakan dengan upacara pengukuhan yang pastinya dihadiri rekan-rekan seangkatan, PASTI, ngga mungkin ngga, yang ada di kepala saya dan yang akan saya bahas sama teman-teman yang hadir adalah, masa-masa jadi mahasiswa. Ya ga sih? Kebayang, begitu ketemu teman-teman seangkatan jaman kuliah disaat kita udah mencapai level tertinggi, pasti obrolannya ga jauh-jauh dari, “inget ga dulu si ini begini-begini, si anu beginu-beginu hahahahahaaa…” atau, “gila yaa, inget banget dulu kan dia begini-begini, ga nyangka sekarang udah prof ajeee..”

Tertawa lepas mengenang pahit manisnya perjuangan masa lalu. Tertawa lepas membayangkan kenakalan masa muda, lalu nyatanya sekarang berhasil menjadi guru besar. Absurd sih pasti rasanya.

Seperti biasa, konsep yang didapat dari ngobrol-ngobrol ini langsung saya bikin mockup-nya, dan langsung saya kasih liat ke mamah Iyem, untuk diteruskan ke Papa Aru. Desainnya kaya buku lusuh jaman dulu, penuh dengan oret-oretan khas mahasiswa. Lengkap dengan foto beliau muda.

Setelah di-review, ternyata konsepnya di-approve dong sama Eyang Prof ahahah. Bahkan beliau semangat banget waktu diminta menuliskan kalimat-kalimat masa lalu atau simbol-simbol yang ditulis dan digambar langsung pake tangan (walaupun di tablet). Yang ditulis bukan cuman slogan-slogan, tapi juga gambar-gambar jorok ala dinding-dinding kamar kos mahasiswa pada masanya ahahah. Menurut ceritanya, beliau ini dulunya bandel banget sekaligus pinter banget (yakali, profesor gitu). Tipikal tokoh inspiratif saya banget lah.

Dan hasil desainnya seperti foto-foto di bawah ini. Agak-agak grungy dan David Carson-esque gitu lah. Dan itu jadi personal achievement tersendiri buat saya. Selain berhasil berkolaborasi dengan seorang profesor panutan, saya juga sukses ‘menyusupkan’ grunge design ke upacara yang sangat sakral itu. Ha!

IMG_4000

IMG_4005

IMG_4001

IMG_4008

IMG_3998

IMG_4002

IMG_4003

IMG_4004

IMG_4006

The girls called him Popo. Popo spent several years working as a graphic/new media designer in several companies in several cities before he got bored and decided to move back to Bandung and started his own streetwear label with his friends. Now, when he’s not busy massaging Nyanya’s back or making play doh with Rinjani, Popo can be found at WADEZIG! HQ making cool apparel.

Leave a Comment