Events & Celebrations

Re: Emergence Exhibition at Selasar Sunaryo

Setelah sekian lama, entah kita yang kurang update, kebanyakan urusan, atau emang acara berkesenian lagi agak jarang beberapa waktu kebelakang, akhirnya wiken kmaren kita dateng ke opening pameran Re: Emergence di Selasar Sunaryo.

Sesuai judulnya, pameran ini sebenernya adalah ‘kemunculan kembali’ alias ajang reunian seniman-seniman yang pernah terlibat di pameran tahunan Bandung New Emergence yang udah berlangsung beberapa kali. Total ada 30 seniman yang terlibat. Semuanya anak-anak muda Bandung, temen-temen seangkatannya Booi lah.

Selain masalah reunian, Re: Emergence ini katanya juga bisa diterjemahkan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan memori artistik para senimannya. Ini seru sih. Jadi karya-karya yang ditampilin itu merupakan respon artistik para seniman terhadap seniman-seniman lain dan atau karya-karya seni yang udah lebih duluan populer, atau yang selama ini jadi referensi atau inspirasi si seniman. Misalnya, Amenkcoy yang merespon karya-karya ilustrator Sunda legendaris, Onong Nugraha. Atau J. Ariadhitya Pramuhendra yang terinspirasi sama karya Tisna Sanjaya. Ga cuman terinspirasi, dia juga mengajak kang Tisna langsung berkolaborasi dalam karya performance art-nya. Jadi dia bikin karya yang merespon karyanya Tisna Sanjaya, dengan menampilkan Tisna Sanjaya sendiri sebagai salah satu performer-nya. Keren ya?

Sebagai orang yang awam sejarah seni rupa dan karya-karya seni populer Indonesia sih saya ga terlalu liat banyak interkoneksi kaya begini. Paling yang emang kenal-kenal aja. Tapi menurut yang ngerti sih emang pameran ini jadi semacam tafsiran bebas dari berbagai karya-karya populer pada masanya.

Ngga cuman dalam berkarya, tapi dalam sesi artist talk-nya, masing-masing seniman juga secara spesifik ngebahas seniman tertentu yang jadi rujukan karyanya.

Pameran yang juga merupakan perayaan ulang tahun ke-19 Selasar Sunaryo Art Space ini masih berlangsung sampe 22 Oktober. Jadi masih banyak waktu buat yang belom sempet ke sana. Ya kalo ga berminat sama pamerannya, paling ga makan Cinnamon Banana aja lah di Kopi Selasar.

Sebagian foto-foto pas opening bisa diliat di bawah. Foto-foto selengkapnya ada di sini.

Re: emergence

Re: emergence

Re: emergence

Re: emergence

Re: emergence

Re: emergence

Re: emergence

Re: emergence

The girls called him Popo. Popo spent several years working as a graphic/new media designer in several companies in several cities before he got bored and decided to move back to Bandung and started his own streetwear label with his friends. Now, when he’s not busy massaging Nyanya’s back or making play doh with Rinjani, Popo can be found at WADEZIG! HQ making cool apparel.

Leave a Comment