Hangout

Ikan Bakar Bang Temmy

bangtemy-10

Namanya Bang Temmy. Orang Padang asli. Tanpa dikasih tau pun, saya udah bisa menebak dari logatnya yang sangat familiar di kuping. Orangnya sangat ramah dan murah senyum. Rambutnya yang gondrong awut-awutan sebagian udah ubanan. Wajahnya juga keliatan kaya udah berumur. Tapi penampilannya masih rock ‘n roll. Masih suka pake boots dan jins belel. Kadang pake jaket kulit, atau mantel kulit panjang. Di foto ini kebetulan dia sedang pake peci. Aslinya kalo lagi ga pake peci, penampilannya  dan mukanya persis Keith Richards banget. Saya yakin ini bukan kebetulan sih. Karena warung ikan bakarnya dihiasi poster-poster Led Zeppelin, Beatles, The Rolling Stones, dan band-band rock 70an lainnya. Setiap makan di sana, musiknya juga ngga jauh-jauh dari Pink Floyd, Deep Purple, dan pokoknya segala rupa lagu-lagu tua yang ada suara Hammond-nya. Jadi gaya rock n roll-nya itu emang bawaan dari selera musiknya.

Itu tentang Bang Temmy, yang secara personal sangat saya kagumi. Nah kalo soal ikan bakar yang beliau masak, udah terbukti paling enak lah pokoknya. Saya ngga ahli soal review makanan sih, tapi yang jelas ini adalah ikan bakar khas Padang, dengan bumbu-bumbunya heboh dan berasa sampe ke dalem-dalem dagingnya. Trus ciri khas lainnya, ikannya itu ikan Nila, bukan gurame.

Waktu orangtua saya berkunjung ke Bandung beberapa tahun yang lalu, kami sengaja mengajak mereka nyicipin ikannya Bang Temmy ini, pengen tau komentarnya apa. FYI, sebagai Padang sejati, bapak ibu saya kan paling bawel banget kalo urusan makanan. Segala rumah makan Padang macam Sederhana atau Simpang Raya gitu ga ada yang lolos seleksi buat mereka mah. Tapi begitu nyobain ikannya Bang Temmy, it’s approved! ahahah asliii.

Awalnya warung ikan bakar Bang Temmy ini bagian dari pujasera yang ada di perbatasan Antapani dan Arcamanik. Namanya Pujasera 123. Udah lama banget, sekitar 4-5 tahun yang lalu. Kita suka makan di sana karena banyak pilihannya. Udah gitu kalo lagi pengen rada gaya, disana juga ada yang namanya kafe Tempo Doeloe, yang menjual roti-roti homemade gitu. Saya masih inget, waktu itu Nyanya masih hamil Rinjani, jadi kita masih sering makan atau nongkrong di luar. Semua makanan di pujasera itu enak-enak, termasuk ikan bakarnya Bang Temmy ini. Tapi sayang karena sepi pengunjung (atau ada alasan lain yang kita ngga tau), pujasera ini kemudian tutup. Untungnya ngga lama setelah itu, Bang Temmy buka warung sendiri persis di seberang pujasera yang tutup itu. Tempatnya malah jadi lebih lega dan lebih nyaman.

Sekarang Rinjani udah 4 tahun. Brarti udah hampir 5 tahun kita bolak-balik makan ikan bakarnya Bang Temmy. Dan selama hampir 5 tahun itu, rasanya ga pernah berubah. Rock ‘n roll-nya juga ga berubah. Tetep urakan, tetep nyetel lagu-lagu favoritnya. Attitude yang bahkan kebanyakan kafe-kafe ‘mahal’ Bandung pun ga punya.

bangtemy

bangtemy-2

bangtemy-3

bangtemy-4

bangtemy-5

bangtemy-6

bangtemy-7

bangtemy-8

bangtemy-9

bangtemy-11

bangtemy-12

bangtemy-13

bangtemy-14

 

The girls called him Popo. Popo spent several years working as a graphic/new media designer in several companies in several cities before he got bored and decided to move back to Bandung and started his own streetwear label with his friends. Now, when he’s not busy massaging Nyanya’s back or making play doh with Rinjani, Popo can be found at WADEZIG! HQ making cool apparel.

Leave a Reply to Deeta Cancel reply

Comments (1)

  1. Tah eta!baru kemaren nyobain atas rekomendasi temen kantor.. Agak telat yaa sbg wrga antapani.. Hehee..Dan keinget kalau kapan itu entah nyanya atau baca dimana kalau kalian suka makan disini.. Ternyata emang enak yaaaa

%d bloggers like this: