Commissioned DIY

#HelloNAO : The Babybirds for NAO House

Beberapa waktu yang lalu, kami mendapat ‘tugas’ dari pasangan Gamma dan Fadi untuk ‘bikin-bikin’ sesuatu buat menghias rumah baru mereka. Jadi Gamma & Fadi ini baru aja merenovasi rumahnya. Rumah baru itu mereka kasih nama NAO House, yang diambil dari bahasa Jepang yang artinya ‘jujur’. Sesuai namanya, konsep rumahnya adalah kejujuran material. Maksudnya, semua material yang digunakan ditampilkan apa adanya. Semen atau beton ditampilkan sebagaimana layaknya semen dan beton, kayu ditampilkan sebagaimana layaknya kayu. Ngga ada yang ditutupi. Lebih detail soal pembahasan rumah ini bisa dibaca di www.infoarsitek.com.

Setelah berkunjung ke rumah mereka dan beberapa kali diskusi, akhirnya kita sepakat untuk memberi aksen warna pada tembok-tembok abu di rumah tersebut. Rumahnya itu kan dominan monokrom dan natural, jadi kebayang aksen warna artifisial bakalan jadi penyeimbang yang akan membuat rumah itu jadi terlihat lebih hidup dan jauh dari kesan suram.

Dari sekian banyak ide yang kita bahas, yang dipilih untuk dibuat adalah pallet art untuk dekorasi ruang tengah. Pallet art ini dipilih karena secara konsep cocok banget dengan NAO House, sekaligus sangat mewakili gaya DIY a la The Babybirds. Di atas palet kayu unfinished itu ditempelin kabel listrik yang meliuk-liuk membentuk kata HELLO. Di bagian ujung kabel terdapat colokan, dan di ujung satunya lagi lampu bohlam. Secara implisit kita menggambarkan dua bagian yang saling terkoneksi dan saling mempengaruhi satu sama lain. Koneksi itu membentuk kalimat sapa, HELLO! Itu adalah sapaan dari The Babybirds buat NAO House, atau sebaliknya. Lebih jauh lagi, itu juga bisa berarti sapaan dari dan atau untuk teman, sodara, kerabat yang datang berkunjung.

Dekorasi yang kedua, lukisan bermotif geometris warna-warni yang terinspirasi dari tegel bermotif. Kita menyebutnya lukisan karena dibuat dari cat akrilik menggunakan kuas di atas kanvas. Lukisan ini dipajang di kamar tidur utama. Sesuai bayangan, begitu dipasang di tembok monokrom itu, lukisan warna-warni ini jadi keliatan sangat stand out. Kanvas-kanvas ini ditempel di tembok menggunakan velcro, jadi kalo bosen dengan komposisi yang sekarang, bisa dengan gampang ditukar-tukar posisinya.

Ini adalah pengalaman pertama saya dan Nyanya ditugaskan membuat dekorasi untuk rumah orang lain. Ternyata seru dan menyenangkan. Mungkin karena kliennya juga temen sendiri ya, dan kebetulan punya selera yang ga jauh berbeda, jadi proses kreatif dan brainstorming-nya juga seru. Kita sangat menikmati prosesnya (yang karena kesibukan kita, jadi molor berminggu-minggu). Mudah-mudahan mereka berdua juga, dan yang paling penting, suka sama hasilnya.

Foto-foto dan video selengkapnya bisa diliat di bawah ini.

 

IMG_1368

IMG_1369

IMG_1370

IMG_1371

IMG_1373

IMG_1893

IMG_1906

IMG_3175

IMG_3179

IMG_3243

IMG_3242

IMG_3235

IMG_3222

image1-1

 

 

The girls called him Popo. Popo spent several years working as a graphic/new media designer in several companies in several cities before he got bored and decided to move back to Bandung and started his own streetwear label with his friends. Now, when he’s not busy massaging Nyanya’s back or making play doh with Rinjani, Popo can be found at WADEZIG! HQ making cool apparel.

Leave a Comment