DIY

DIY Pebble Cactus

Setelah ramadan tahun kemaren Rinjani nyoba belajar puasa setengah hari, tahun ini untuk pertama kalinya dia mulai puasa sehari penuh. Hari pertama masih setengah hari. hari kedua, di luar dugaan Rinjani kuat sampe sore. Hari ketiga dan seterusnya juga masih kuat. Ngga sekedar kuat, tapi juga ga menunjukkan tanda-tanda puasa sama sekali. Pecicilan dan bawelnya ga berubah sama sekali. Saya dan Nyanya sampe amazed sendiri.

Tapi kmaren, tumben-tumbenan Rinjani baru jam 2 siang udah lemes. Katanya perutnya sakit. Tapi disuruh buka puasa anaknya ngga mau. Disuruh tidur siang, tapi ngga tidur-tidur. Setelah sekian lama guling-guling ga kunjung ketiduran, akhirnya anaknya bangun, trus bilang, “Popo, aku ga mau tidur, tapi ga mau buka puasa juga..”

“Trus kamu mo ngapain?”

“Mau main..”

Ya udah, akhirnya saya berinisiatif mengajak Rinjani bikin proyek pebble cactus ini. Rinjani selalu paling antusias kalo diajakin proyekan bareng. Dia langsung bersemangat dan mulai bekerja sesuai tugas masing-masing.

kaktus-1

Rinjani bertugas mengumpulkan batu-batu kecil di belakang rumah yang kira-kira bentuknya cocok untuk dijadiin kaktus. Saya bertugas mencampur berbagai warna hijau. Berhubung ngga punya warna hijau yang cocok, jadi agak-agak toska jatuhnya. Abis itu, Rinjani mulai mengecat batu-batunya satu-persatu. Selesai dicat, batu-batu dijemur dulu.

kaktus-2

kaktus-3

Setelah batu-batu hijau itu mengering, selanjutnya tugas saya memberi bintik-bintik putih untuk memberi aksen kaktus. Ngeliat saya notol-notolin batu kayanya gampang, akhirnya Rinjani juga kepengen. Ya udah deh, akhirnya dilanjutin sama Rinjani.

kaktus-4

kaktus-5

kaktus-6

kaktus-7

Setelah semuanya selesai, mulai menata batu-batunya di pot kecil yang sudah diisi batu-batu putih. Abis itu, ditaro deket pot-pot sukulen. Kata Rinjani, “ayo kita taro dia deket temen-temennya!”

Tapi abis itu Rinjani berbisik ke saya, “sssttt… tapi popo jangan bilang-bilang ke tanaman yang lain kalo kaktus yang ini boongan yaaa? Nanti mereka ga mau temenan ama dia, kasiaan…”

kaktus-9

kaktus-8

The girls called him Popo. Popo spent several years working as a graphic/new media designer in several companies in several cities before he got bored and decided to move back to Bandung and started his own streetwear label with his friends. Now, when he’s not busy massaging Nyanya’s back or making play doh with Rinjani, Popo can be found at WADEZIG! HQ making cool apparel.

Leave a Comment