Hangout Weekend Getaway

Berkunjung Ke Museum Di Tengah Kebun

Alesan utama kita ke Jakarta sabtu kemarin itu sebenernya adalah buat acara buka bersama para ibu-ibu dari keluarga besar Dara Puspita, tapi sebelum acara buka bersama, kita janjian mau mengunjungi Museum di Tengah Kebun, yang kemudian ternyata jadi hilight hari itu karena museumnya keren banget. Ya acara buka bersamanya juga seru sih, seperti biasa, ngumpul sama para ibu-ibu (dan beberapa bapak-bapak yang seperti biasa ga lengkap), tapi museum ini beneran mencuri perhatian kita semua, terutama saya, yang tadinya menurut rencana ga akan ikut masuk.

Museum di Tengah Kebun

Jadi ceritanya, agenda ke museum ini adalah dalam rangka ngajakin Yuki, sahabatnya Nyanya dan geng Darpus. Yuki ini orang Jepang, tapi udah deket banget sama mereka sejak jaman kuliah, jadi udah sering bolak-balik ke sini cuman buat liburan atau numpang tidur di rumahnya Iffa. Museum di Tengah Kebun ini dipilih atas rekomendasi Nura. Dan menurut info hasil googling, anak-anak di bawah umur dilarang masuk ke museum karena konon katanya barang-barang koleksi di dalam banyak “penunggunya”. Makanya menurut rencana, yang masuk ke dalem cuman Yuki sama ibu-ibu aja, sementara saya sama Aip nunggu di luar nemenin anaknya masing-masing, Rinjani dan Salwa. Makanya walaupun sebenernya penasaran banget pengen masuk, tapi karena udah ketauan ga boleh, jadi saya ga terlalu excited sama acara ini. Lebih excited sama buka puasanya aja.

Ternyata berita yang kita baca di internet itu ga akurat. Mas Rian, museum guide-nya bilang kalo anak-anak boleh masuk, asal diawasi biar ngga menyentuh benda-benda museum. HORE! Brarti saya sama Rinjani jadinya ikut masuk. Dan yang lebih menyenangkan lagi, katanya di dalam museum boleh foto-foto sebebasnya.

Museum di Tengah Kebun

Jadi museum ini pada dasarnya adalah kediaman pribadi pak Sjahrial Djalil. Dan semua benda-benda yang dipamerkan adalah koleksi pribadi beliau, yang dikumpulkan sendiri dengan modal pribadi dengan cara keliling dunia berkali-kali, dan rajin ngikutin lelang di pusat lelang legendaris macam Christie’s gitu. Sadis deh pokoknya ceritanya. Coba googling aja nama beliau.

Trus karena bentuknya rumah, jadi ruangan-ruangan di dalem museum ini ya sebagaimana layaknya rumah aja. Ada ruang tamu, ruang tengah, ruang makan, dapur, beberapa kamar,  dan lain-lain. Dan barang-barang bersejarah itu disusun sedemikian rupa di ruangan-ruangan itu. Konon katanya pak Sjahrial sendiri yang menata, membersihkan, dan mengelola semua barang-barangnya. Dari ribuan koleksinya itu, beliau akan tau kalo ada satu aja yang berpindah tempat. Ngeri ya?

Selain koleksinya yang keren parah itu, yang bikin kagum adalah, pak Sjahrial ‘membuka’ rumah dan koleksi pribadinya ini buat dijadiin museum engga buat tujuan komersil, melainkan untuk tujuan pendidikan. Makanya untuk masuk ke museum ini ga dikenain biaya sama sekali. Semuanya gratis. Bahkan kmaren pas kita mau ngasih tip ke guide-nya, ga diterima dong uangnya. Jadi malu hati sendiri.

Karena sampe sekarang pak Sjahrial masih tinggal di rumah ini, jadi museum ini cuman bisa dikunjungi by appointment. Ada beberapa aturan tertentu juga kalo mau dateng, saya ga hapal, pokoknya yang pasti harus janjian dulu. Nanti akan dikasih jadwalnya, lengkap dengan guidenya.

Museum di Tengah Kebun

Museum di Tengah Kebun

Waktu yang dibutuhkan untuk keliling ngeliat semua koleksi museum lebih kurang 2 jam. Selama tur, kita dipandu sama guide yang nyeritain tentang sejarah koleksi-koleksinya, sampai sejarah kehidupan pribadi pak Sjahrial.

Sebenernya selain museumnya, saya sangat tertarik sama sosok pak Sjahrial sendiri. Dari cerita-cerita mas guide sama baca di Wiki-nya, saya jadi tau ternyata pak Sjahrial ini adalah keturunan Minang yang sejak jaman penjajahan orangtuanya sudah merantau ke Jawa. Yay, Minang represent! *yaelah* Ahahahaha.

Selain itu, beliau juga merupakan salah seorang tokoh di bidang periklanan. Nah ini yang bikin penasaran. Karena mengingat umurnya, saya yakin banget pasti beliau kenal sama almarhum opa-nya Rinjani, sebagai sesama tokoh periklanan.

Di akhir tur kita beruntung bisa ketemu langsung dan foto bareng sama pak Sjahrial sendiri. Saya udah gatel banget pengen ngobrol dan nanya-nanya, tapi sayang si bapak kondisinya sedang ngga fit, jadi lagi ngga bisa diajak berkomunikasi. Terpaksa deh rasa penasaran saya harus disimpen dalem-dalem. Hiks.

Museum di Tengah Kebun

Museum di Tengah Kebun

Museum di Tengah Kebun

Museum di Tengah Kebun

Museum di Tengah Kebun

Museum di Tengah Kebun

Museum di Tengah Kebun

Museum di Tengah Kebun

Museum di Tengah Kebun

Museum di Tengah Kebun

Museum di Tengah Kebun

Beres dari museum, agenda berikutnya adalah buka puasa bersama di KOI Restaurant Kemang. Tapi karena waktu buka puasanya masih lama, jadi kita nongkrong-nongkrong dulu di Reading Room, kafe sekaligus perpustakaan, beberapa ratus meter dari museum. Tadinya mau ke mana-mana dulu, tapi seperti biasa deh, ngemeng doang tau ga berangkat-berangkat. Sampe akhirnya udah sore trus yaudah kita langsung ke KOI aja. Dan Rinjani bisa menamatkan puasanya full sampe Maghrib setelah drama liat orang-orang yang ga puasa makan depan dia. Termasuk mumnya. Ahahaha. Good job, Rinjani!

Museum di Tengah Kebun

Museum di Tengah Kebun

Museum di Tengah Kebun

Museum di Tengah Kebun

Museum di Tengah Kebun

Museum di Tengah Kebun

Museum di Tengah Kebun

Museum di Tengah Kebun

Foto-foto selengkapnya bisa dilihat di akun Flickr kita.

The girls called him Popo. Popo spent several years working as a graphic/new media designer in several companies in several cities before he got bored and decided to move back to Bandung and started his own streetwear label with his friends. Now, when he’s not busy massaging Nyanya’s back or making play doh with Rinjani, Popo can be found at WADEZIG! HQ making cool apparel.

Leave a Comment