Illustration & Design

Batik Dudhelan Project

bugs-tik-5

Mungkin dari semua proyek yang pernah kita kerjain, baik yang komersil maupun yang non komersil, kayanya batik Dudhelan (terjemahan jawa suka-suka dari kata Doodle) ini adalah proyek yang paling saya dan nyanya impikan. Dari dulu kita emang pengen banget punya kain batik dengan motif yang kita desain sendiri. Bukan fabric/garment printing, bukan sablonan, tapi batik. Beneran menggunakan teknik batik tradisional.

Makanya, ketika akhirnya kesempatan itu datang, kita beneran excited kaya mau meledak rasanya. Apalagi begitu melihat hasilnya yang beneran sesuai harapan.

Jadi ceritanya waktu itu setelah sekian lama mencari-cari segala kemungkinan untuk mewujudkan cita-cita bikin batik ini, akhirnya kita ngobrol secara virtual sama Sekar, salah seorang temen yang kita kenal via Instagram. Sekar ini tuh dulunya adalah mahasiswa seni rupa yang sedang mendalami ilmu batik-membatik. Dan waktu itu kita pernah berencana mau berkolaborasi membuat batik dari gambar-gambarnya Rinjani, untuk TA (Tugas Akhir)-nya Sekar. Tapi karena satu dan lain hal, waktu itu ga bisa terlaksana.

Fast forward ke beberapa tahun kemudian, akhirnya kemaren itu wacana batik ini muncul lagi. Cuman bedanya sekarang kita udah lebih siap dalam berbagai hal. Desainnya udah ada, hasil kolaborasi saya dan Rinjani. Jadi doodles-nya Rinjani kita kumpulin, trus di-mix sedemikian rupa supaya jadi pattern yang bisa dibikin batik. Tentunya dengan supervisi langsung dari Rinjani sendiri. Karena, FYI, anak ini walaupun doodles-nya terkesan sembarangan dan berserakan di mana-mana, tapi dia sangat over-protective loh sama setiap objek yang dia gambar itu. Rinjani itu selalu tau kalo ada gambarnya yang saya ubah, atau edit. Misalnya ada gambar tikus yang badannya dipotong atau mukanya diubah, nah dia bakalan ngomel ahahaha. Makanya segala sesuatunya harus seijin sang kanjeng kucrit.

Selain approval dari kanjeng kucrit, masih ada approval terakhir lagi dari kanjeng kucrit senior; Nyanya. Yang ini juga tentunya ga kalah rewelnya kalo urusan desain. Like mother like daughter lah pokoknya.

Oke, setelah desain siap, kita kembali menghubungi Sekar. Diskusi berlanjut dengan beberapa sesi crash course batik design sama Sekar via WhatsApp. Ternyata desain batik yang udah kita bikin sedemikian rupa itu masih kurang batik-able, jadi harus di-tweak lagi. Kebayang rumitnya menyusun unicorn, kepiting, kucing, dan semut-semutnya Rinjani itu biar bisa dibuat menjadi pola repetisi.

batik_preview

Beres urusan desain, lanjut ke produksi. Karena produksinya ngga di Bandung, jadi urusan produksi pun, mulai dari pembuatan cap, asistensi, pewarnaan, dan lain-lain semuanya online, thanks to technology. Sebenernya no thanks to technology sih, karena kita sih pengennya terlibat langsung. Deg-degan banget soalnya. Gatel pengen liat langsung prosesnya.

Karena desain yang kita buat itu adalah doodle yang membentuk pattern (pola repetisi) jadi metode yang paling cocok adalah batik cap. Trus lagi-lagi karena tuntutan desain, proses capnya harus dilakukan dalam dua tahap, dengan menggunakan dua jenis cap yang berbeda. Tahap pertama adalah pembuatan corak latar dengan menggunakan cap tembaga, trus tahap kedua pembuatan corak objek utamanya, yang menggunakan cap kayu. Agak nyusahin sih emang desainnya. Tapi segini tuh sebenernya desainnya udah ‘mengalah’ banget. Tadinya malah lebih susah lagi, ahahah.

Tapi begitu selesai, bahagianya ga kira-kira.

bugs-tik-6

Hasil karya kita sendiri, dibuat menjadi batik, dan hasilnya dari segi teknis dan kualitas bahan sesuai dengan yang kita harapkan. Gilak. Ya gatau sih buat standar orang lain gimana, tapi kalo buat kita sih segini udah bagus banget.

Ga cuman itu, Sekar juga membuat kemasan khusus yang cantik buat paket batiknya. Ya ampun seneng banget ngeliat cap tembaganya. Keren buat jadi pajangan dan pastinya kenang-kenangan buat Rinjani dewasa nanti. Lumayan buat jadi pick-up line dia waktu ngegebet cowo-cowo artsy.

“Dulu aku waktu kecil pernah bikin batik loh..”

“Really?! That Javanese heritage blablabla… yadayada…?”

Nah.. :)))

bugs-tik-11

bugs-tik-16

bugs-tik-15

bugs-tik-10

bugs-tik-9

bugs-tik-13

bugs-tik-8

bugs-tik-3

The girls called him Popo. Popo spent several years working as a graphic/new media designer in several companies in several cities before he got bored and decided to move back to Bandung and started his own streetwear label with his friends. Now, when he’s not busy massaging Nyanya’s back or making play doh with Rinjani, Popo can be found at WADEZIG! HQ making cool apparel.

Leave a Comment

Comments (6)

  1. keren!!!! Aku tahu banget rasanya proses bikin batik dengan desain sendiri dan deg2an nya nunggu hasil, antara desainnya pas ato nggak, warnanya hasilnya gimana. Tapi pas keluar hasilnya,,, warbiyasak!!!

%d bloggers like this: